Menyelamatkan Gigi Goyang: Apa Itu Splinting dan Bagaimana Cara Kerjanya?

 

Penyakit periodontal adalah penyakit yang menyerang struktur jaringan periodontal gigi. Adanya gangguan pada struktur ini menyebabkan stabilitas gigi menjadi terganggu, yang salah satunya ditandai dengan kegoyangan gigi. Selain itu, kegoyangan gigi juga dapat terjadi pada jaringan periodonsium yang sehat, sehingga terjadi penurunan tinggi tulang alveolar dan pelebaran ligamentum periodontal. Keadaan ini dianggap sebagai kegoyangan fisiologis yang dapat dikurangi dengan penyesuaian oklusi dan splinting.

Kegoyahan gigi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

    1. Karena adanya sakit sistemik seperti diabetes atau tekanan darah tinggi
    2. Susunan gigi yang tidak beraturan sehingga menyebabkan traumatik oklusi
    3. Trauma karena makanan ataupun kecelakan
    4. Karena kondisi jaringan periodontal atau pendukung yang tidak memadai dan disebabkan karena kebersihan rongga mulut

Apa Itu Splinting?

Splinting merupakan tindakan kedokteran gigi yang bertujuan untuk merekatkan gigi permanen yang goyah ke gigi yang lain. Tindakan splinting ini bukan merupakan tindakan pembedahan, tetapi dibutuhkan konsistensi dari pasien untuk datang kontrol rutin ke dokter gigi agar didapatkan hasil yang maksimal sesuai yang diharapkan.

Prinsip Kerja Splinting

Splinting tidak dapat membuat gigi kembali cekat seperti semula. Hanya menghilangkan faktor penyebab dan penyembuhan yang dapat mengurangi mobilitas gigi.

Tujuan dari Splinting

    1. Sandaran terbentuk pada jaringan periodonsium, membantu perbaikan akibat trauma

    2. Mengurangi mobilitas secara cepat dan diharapkan secara permanen

    3. Beban yang diterima oleh salah satu gigi dapat disalurkan ke beberapa gigi lainnya

    4. Kontak proksimal stabil dan mencegah impaksi makanan

    5. Mencegah migrasi gigi

Indikasi dari Splinting

    1. Mobilitas gigi yang semakin parah
    2. Mobilitas gigi yang mengganggu kenyaman pasien
    3. Migrasi gigi
    4. Prostetik yang memerlukan gigi abutmen yang banyak

Bahan dan Metode Splinting

Ada beberapa pilihan bahan yang umum digunakan, yaitu:

  • Wire-Composite Splint: Kawat lentur yang diadaptasikan pada lengkung gigi dan difiksasi menggunakan bahan komposit.

  • Resin Splint: Pemasangan lapisan resin khusus pada permukaan gigi.

  • Fiberglass/Kevlar Splint: Menggunakan serat nilon atau fiberglass yang diperkuat dengan resin dan dipasang ke permukaan gigi melalui proses polimerisasi.

Berdasarkan durasinya, splint dibagi menjadi splint sementara (untuk membantu penyembuhan cedera/pasca-bedah) dan splint permanen (jika stabilisasi diperlukan dalam jangka panjang). Jika setelah 2 bulan kondisi belum stabil dengan splint sementara, dokter biasanya akan menggantinya dengan splint permanen.

Penting: Perawatan Pasca-Splinting

Manfaat utama splinting adalah meningkatkan kenyamanan saat mengunyah. Namun, karena alat ini dapat membuat area sela gigi lebih sulit dibersihkan, pasien wajib menjaga kebersihan mulut dengan ekstra. Pastikan untuk menyikat gigi dengan benar dan menggunakan alat pembersih tambahan (seperti dental floss) sesuai anjuran dokter agar tidak terjadi penumpukan plak di sekitar alat splint.

Penulis : drg. Riesky Sharastiti

drg. Riesky Sharastiti

drg. Riesky Sharastiti atau yang akrab disapa Dokter Sharas merupakan dokter gigi umum yang menyelesaikan studinya pada tahun 2018 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau berpraktik secara intensif di Klinik Gigi GDC Utama Gentan setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Minggu. drg. Sharas sangat menyukai perawatan gigi dibidang anak dan periodontal (jaringan pendukung gigi). Banyak kasus mengenai anak dan gusi sudah sering drg. Sharas tangani sesuai kompetensi di Klinik Gigi GDC. Selain praktek, drg. Sharas juga aktif mengikuti kegiatan seminar ataupun baktisosial di daerah Surakarta ataupun di luar provinsi Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukan untuk selalu up to date mengenai ilmu kedokteran gigi terkini yang nantinya akan menunjang di tempat praktek guna meningkatkan kualitas kesehatan gigi masyarakat Indonesia.

Facebook
WhatsApp
LinkedIn